Dengarkanlah Dia!

Dengarkanlah Dia!
  • Post category:Devotion

“‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.’ Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.” Matius 17: 5


“Sorbum, sorbum, sorbum!” demikianlah teriakan saya dan teman-teman sebagai  alumnus salah satu perguruan tinggi swasta Kristen di Yogyakarta. Istilah itu mengacu pada sorga dan bumi yakni suatu ruang di mana kemuliaan Allah bertahta bagi kita semua. Selain terinspirasi dari kalimat Doa Bapa Kami yakni “Datanglah Kerajaan- Mu di bumi seperti di sorga”, penulis mengira ada makna khusus yang ingin disampaikan dari slogan ini dan hal tersebut berkaitan sangat erat dengan keberadaan Yesus Kristus sebagai penghubung sorga dan bumi lewat karya keselamatan-Nya.

Lewat minggu transfigurasi ini, kita diingatkan kembali akan karya-Nya bagi sorga dan bumi serta panggilan-Nya untuk mempersiapkan diri bagi kedatangan Kerajaan Sorga.
Sebelumnya, kita mendengar formulasi “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada- Nyalah Aku berkenan…” di saat Yesus menerima baptisan oleh Yohanes (Matius 3:17). Mengapa formulasi ini muncul kembali di Matius 17: 5? Kata-kata yang datang dari sorga adalah simbolisasi keberadaan Roh Kudus yang senantiasa hadir bagi Yesus di dunia. Ini berarti kemuliaan Yesus sebagai warga Sorga tidak hilang ketika Yesus berada dan berkarya di dunia. Justru, pengakuan dari Sorga (Allah Bapa) lewat Roh Kudus bahwa Yesus adalah yang Dikasihi dan yang Dikenan ingin mengajak seluruh
bumi untuk mengasihi, menerima dan secara khusus di dalam bacaan kita hari ini adalah juga mendengarkan Dia.

Ketakutan para murid sangat menggambarkan bagaimana dunia selalu belum siap akan keselamatan yang ditawarkan oleh Sorga. Tetapi, sekali lagi, antara sorga dan bumi, ada Yesus Kristus sebagai penghubung tetap yang dapat diteladani sehingga manusia (perwakilan dari dunia) tidak kebingungan ketika merespons kabar keselamatan. Di minggu transfigurasi, garis antara kemanusiaan dan keilahian Tuhan Yesus Kristus melebur menjadi sebuah jembatan bagi kita semua. Jembatan itu membawa kita pada kasih karunia Allah yang turun dari sorga dan hendak merangkul kita semua. Jembatan itu berteriak kepada kita untuk membuka hati dan diri kita pada keselamatan yang perlu disambut dengan pertobatan sejati dalam hidup kita. Selamat
memasuki masa prapaskah dan menyadari Sang Jembatan Kehidupan yang selalu mengajak kita berbalik kepada Allah Bapa yang penuh kasih. Amin.
(tria)