Sejarah Singkat

Sekitar tahun 1950 THKTKH Semarang bersama Gereja Gereformeerd Kalisari memulai Jeugdienst (Pekabaran Injil di kalangan orang muda dalam bahasa Belanda dan Indonesia). Jeugdienst tersebut dilaksa­nakan di Balai Pertemuan Kristen Jl. Bbojongojong / Pemuda (kini Golden Supermarket) 51, dengan tujuan untuk menampung para pemuda/pela­jar dalam persekutuan Kristen pada setiap hari Minggu. Langkah ini tak dapat dilepaskan dari upaya Pdt. Sulaiman Budipranoto yang memahami benar pentingnya memberikan perhatian kepada para pemuda dengan masalah-masalah yang mereka hadapi. Karena pendekatan beliaulah, maka Gereja Gereformeerd Kalisari bersedia bekerja sama menggarap pelayanan ini.

Pelayanan kepada kaum muda ini mendapat bantuan sepenuh hati dari Pnt. Oei Ping Hoo (Timotius Widjaja) dengan mengurus segala sesuatu yang diperlukan.

 

Pelayanan kepada kaum muda ini mendapat bantuan sepenuh hati dari Pnt. Oei Ping Hoo (Timotius Widjaja) dengan mengurus segala sesuatu yang diperlukan. Karenanya, semua pelaksanaan pelayanan ini pun lancar. Selanjutnya, Jeugdienst ini mendapat perhatian para orang dewasa pula, sehingga pada hari Minggu selanjutnya mereka hadir dalam kebaktian tersebut. Oleh sebab itu, juga atas usul Pdt Sulaiman Budipranoto, Jeugdienst ini diganti menjadi kebaktian umum. Perubahan ini terjadi pada bulan Juni 1952 dan selan­jutnya sampai menjadi GKI Rayon II Bojong (1 Juli 1969).

Dengan terbentuknya sistem rayonisasi ini, maka pada tanggal 8 Juli 1969 tersusun Majelis Jemaat GKI Rayon II/Bojong sebagai berikut : Ketua, Pdt Sulaiman Budipranoto; Wakil Ketua, Pnt. Tjahjono Kurniadi; Penulis I, Pnt. Natanael Sugiharto Hartono; Penulis II, Diaken Chris Margono Siswadi; Bendahara, Pnt. Jusuf Agus Wenas; Anggota-anggota, Diaken Ny Hartati Iman Santosa, Pnt. Lukas Atmadi, Pnt. Yahya Kurnia Winata, Pnt. Mozes Sudirgo Nugro­ho, Pnt. Wudjud Setiawan, Diaken Slamet Widjaya dan Pnt. Harjanto Susilo.

Selanjutnya dalam rangka pengembangan Rayon II tersebut, jemaat merasa perlu untuk mendapat gedung gereja sendiri. Bersyukur, bahwa Tuhan mengaruniakan sebuah gedung, bekas rumah dr. Angenent, di Jl. Beringin 15 (kini Jl. Pierre Tendean) pada tanggal 9 Agustus 1969. Setelah dirombak di sana sini, maka pada tanggal 24 Desem­ber 1969 pukul 23.00 dipergunakan untuk kebaktian Malam Natal, yang dipimpin oleh Pdt Sulaiman Budipranoto. Selanjutnya, per Januari 1970 kebaktian di Jl. Pemuda 51 resmi pindah ke Jl. Pierre Tendean 15. Bahkan pada tanggal 20 Juni 1971 dilaksanakan upacara peletakan batu pertama gedung pertemuan Balai Elim yang disusul dengan pemugaran bagian depan gedung gereja lama sekali­gus juga perluasan dengan panitia pelaksananya yang terdiri dari Pdt. Sulaiman Budipranoto, Bapak Tjahjono Kurniadi, Bapak Yahya Kurnia Winata dan Bapak Mozes Sudirgo Nugroho. Adapun ketua pelaksana pembangunannya adalah Pnt. N. S. Hartono dengan arsitek perencananya Ir. Adrianto dan pelaksana pembangunannya Ir. Paulus Mulyadi.

Pada tahun 1971, diketahui, bahwa Balai Elim mengalami kerusakan akibat rayap, sehingga perlu dibongkar dan diganti dengan kon­struksi baja, sekaligus juga menambah fasilitas ruang Perpusta­kaan dan ruang Serbaguna. Untuk melaksanakan pembongkaran dan pembangunan gedung tersebut, dibentuk panitia yang diketuai oleh Pnt. NS Hartono, dengan arsitek dan pelaksana pembangunannya Ir. Antho­ny Kusuma.

Tercatat anggota jemaat pada tahun 1970 berjumlah 392 orang dan kebaktian diadakan pada pukul 07.30 dan dihadiri rata-rata oleh 200 orang. Hal ini dapat kita pahami, mengingat tempat kebaktian ini masih baru. Baru pada tahun 1971 kebaktian diadakan pukul 06.00 dan pukul 07.30, dan pada tahun 1972 Sdri. Johana Aswani membantu pelayanan Pdt. Sulaiman Budipranoto sebagai tenaga khusus, yang melayani pengelolaan Depot Buku `Sabda Mulia’, guru PAK di sekolah, berkhotbah, berkunjung, memimpin katekisasi dan Pemaha­man Alkitab. Kebaktian hari Minggu biasa berkembang pesat, pukul 06.00 sekitar 250 orang dan pukul 07.30 sekitar 480 orang, se­hingga tak tertampung lagi. Terlebih pada hari raya Kristen seperti Natal / Tutup Tahun. Oleh sebab itu, perluasan gedung gereja amat mendesak.

Pengamatan terhadap sebab-sebab perkembangan jemaat adalah antara lain peranan komisi, khususnya Komisi Sekolah Minggu, Pemuda, Remaja dan Wanita; peningkatan usaha pembinaan; urbanisasi dari kota-kota di sekitar Semarang; peranan Pos PI dan Unit Persekutuan Pembinaan Iman (UPPI), kendati masih pada tahap awal. Komisi PI dibentuk untuk mengembangkan Pos-pos PI ada di Poncowolo, Kra­pyak, Manyaran dan Sampangan.

Peningkatan Komisi Pemuda, Komisi Paduan Suara dan Musik `Eliatha’, Komisi Literatur sebagai perwujudan nyata pelayanan literatur `Sabda Mulia’, Komisi Remaja, Komisi Madya dan Komisi Sekolah Minggu dilakukan antara lain dengan kehadiran Sdr. Timothy L. John (Timothy SHD) pada tanggal 1 Pebruari 1978, Sdr. Ade Gunawan dan Sdr. Johannes Liem. Juga dengan pemanggilan Sdri.. Nurhayati Girsang dengan tugas untuk memperhatikan Pendidikan Agama Kristen (PAK) di sekolah. Dengan demikian para siswa dapat ikut mengem­bangkan kehidupan rohaninya lewat berbagai kegiatan gereja. Untuk lebih meningkatkan lagi, dibentuk pula Komisi Pendidikan. Sayang beliau meninggalkan GKI Beringin dan kita ketahui beliau ditah­biskan sebagai pendeta di GKI Gunung Sahari, Jl. Gunung Sahari IV/8, Jakarta, pada tanggal 25 Oktober 1999.

Pada 22 Maret 1979 Tuhan memanggil pulang hamba-Nya yang setia Pdt. Sulaiman Budipranoto dalam usia 59 tahun, setelah melayani pekerjaan Tuhan sejak 1943 di Ambarawa dan 1947 di Karangsaru Semarang hingga emeritasinya pada tanggal 31 Oktober 1978. Kenda­ti jejak pelayanan beliau ada di Tegal, Pekalongan, Purwodadi, Rembang, Lasem dan Juana, dll. Beliau juga menekuni pekerjaan sinodal / klasikal, di bidang pendidikan antara lain lembaga pendidikan Kristen seperti Yayasan Sekolah Kristen Indonesia dan di bidang kesehatan dalam pembentukan YAKKUM.

Pelayanan Sdr. Timothy L. John berlanjut dengan penahbisannya selaku pendeta jemaat pada tanggal 3 Nopember 1982, sekaligus mengumumkan perubahan nama beliau menjadi Pdt Timothy SHD. Kemu­dian menyusul penahbisan Sdr. Andreas Gunawan Priyono sebagai pendeta pada tanggal 29 September 1986.

Dalam perkembangan hingga tahun 1986 sekali lagi dijumpai, bahwa gedung gereja, pastori dan gedung yang lain dirusak oleh rayap. Hal ini mendorong jemaat untuk memikirkan usaha untuk mengatasin­ya. Karenanya, dibentuk Panitia Pemugaran Gedung Gereja yang terdiri dari Ketua Umum Pdt. Timothy SHD, Ketua Bidang Perencanaan dan Konstruksi Pnt. Ir Adrianto dengan anggota-anggotanya Ir. Johnny Hendrawan Satria dan Ir. Antonius Adrianto; Ketua Bidang Penggalangan Dana Pnt. TE Hadisoesanto dengan anggota-anggotanya Pnt. Haryono Budiyuwono, Pnt. Agus Susanto dan Bapak Wudjud Setiawan; Penulis Pnt. Hendrata Santosa; Bendahara Debet Pnt. Lukito Budiono dan Bendahara Kredit Pnt. Isana Takwarif.

Belajar dari pengalaman pembangunan yang lalu, kali ini ditentu­kan, bahwa bentuk fisik gedung gereja dirancang untuk mewujudkan bangunan gedung gereja yang khas, sederhana namun megah bagi kebesaran Tuhan dan merupakan pembangunan secara final, bebas rayap, dengan kapasitas minimal untuk 900 tempat duduk, dengan biaya swadaya jemaat tanpa meminta bantuan dari luar.

Pada akhirnya, pendewasaan terlaksana pada tanggal 6 Pebruari 1987 dengan susunan Majelis Jemaatnya yang pertama sbb.: Pdt. Timothy SHD, Pdt Andreas Gunawan Priyono, Para Pnt : Johanes Liem, Nurhayati Girsang, Susanto Kurniawan, Tjahjono Kurniadi, Adi Rahardjo, Isana Takwarif, SS Chrisman, TE Hadisoesanto, S. Haryono Budiyuwono, Guno Leksono, D. Handoyo Pranoto, Sardjono Elisa, Adrianto, Lukito Budiono, EK Notowidagdo, Eddy Sumitro, CS Siswadi, Bayu Wonodirdjo, Paulus Mulyadi, Agus Susanto, Zakheus Budiono dan Agus Purnomo; Para Diaken : Ny K. Hadirahardjo, Ny Titus Setiadji, Ny Wiendrati Budhiman, Suryanto Herwanto dan Adi Lestijanto.

Gereja Bagaikan Bahtera Di Tengah Samudera

Itulah sebaris syair lagu NKB 111, yang tidak lagi asing bagi kita sebagai warga Jemaat GKI. Demikianlah pula perjalanan Jemaat GKI Beringin selama kurun waktu beberapa tahun ini, tidak mudah namun terus melaju sekalipun dihadang “topan dan badai” yang dahsyat.Jemaat GKI Beringin mampu tetap berdiri dengan kokoh bahkan terus melaju hingga saat ini. Dan yang terpenting dari setiap peristiwa yang terjadi, telah membuat kita semua semakin dewasa.

Berkat Tuhan Sungguh Melimpah

GKI Beringin selama kurun beberapa tahun ini, atas berkat, pimpinan dan kehendakNya, telah melakukan beberapa kegiatan perluasan pelayanan yang TUHAN percayakan untuk kita Jemaat GKI Beringin kerjakan, antara lain :

1. Pos Peduli Kasih Bagi Sesama : “Dapur Kasih”

Berawal dari kerinduan dan kepedulian beberapa saudara-saudara yang tergabung dalam pelayanan Departeman Misi GKI Beringin Semarang, yang mendengar bahwa GKI Salatiga telah melakukan pelayanan kasih bagi masyarakat yang ‘kurang beruntung’ dengan memberikan makan secara gratis.

Maka dilakukanlah studi banding ke GKI Salatiga; dan setelah melalui pergumulan yang matang, akhirnya Majelis Jemaat GKI Beringin bersama Departemen Misi GKI Beringin membuka pos pelayanan peduli kasih bagi sesama yang ‘kurang beruntung’, yang pelaksanaannya memakai halaman belakang gedung GKI Beringin.Semua ini dimungkinkan terjadi karena kesadaran pemahaman filosofis teologis Majelis Jemaat GKI Beringin bahwa GKI Beringin harus menjadi JEMAAT YANG MISSIONER dengan tampilan WAJAH YESUS KHOTBAH DI ATAS BUKIT dari arah halaman depan – pintu masuk gedung GKI Beringin serta tampilan WAJAH ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI dari arah halaman belakang – pintu masuk belakang gedung GKI Beringin. Artinya GKI Beringin dari mimbar gereja akan selalu menyuarakan pengajaran Firman Tuhan (ibadah ritual) dan dari belakang gereja akan selalu mengutamakan pelayanan kasih (ibadah Aksional).

Pada hari Sabtu,18 APRIL 2009 dimulailah pos pelayanan peduli kasih ini, dan diberi nama : “DAPUR KASIH” artinya tempat untuk menyediakan makanan yang siap untuk disajikan bagi mereka yang membutuhkan kasih. Dapur Kasih ini semula dibuka hanya sebulan 1 kali karena keterbatasan anggaran dan SDM, namun dalam perkembangan selanjutnya telah dibuka seminggu sekali yakni setiap hari Sabtu pk.10.00 – 13.00 wib.

Dapur kasih ini mula-mula dihadiri sekitar 90 orang dewasa dan anak yang terdiri dari para tukang becak, penyapu jalanan, gelandangan – pengemis, tukang parkir, dsb. Namun sekarang telah mencapai sekitar 300 hingga 400 orang yang membutuhkan pelayanan ini. Anggaran dan SDM yang dibutuhkanpun semakin “besar”, namun puji Tuhan!! Tuhan Yesus selalu menyediakan melalui anak-anakNya yang peduli dan setia mendukung pelayanan ini. Mereka melayani tanpa pamrih, dari yang menjadi donatur ‘tetap’ dan ‘tidak tetap’ untuk memenuhi kebutuhan bahan-bahan dan dana, hingga yang melayani dengan menyusun menu, belanja ke pasar pagi-pagi buta, memasak, menyiapkan makanan dan mencuci piring, membereskan meja serta peralatan makan. Sungguh semuanya terjadi hanya karena “KASIH TUHAN yang MELIMPAH”.

2. Pos Jemaat Gki Beringin Di Bukit Semarang Baru (Bsb)

Dengan pimpinan Roh Kudus dan dalam berkat Tuhan sajalah; Majelis Jemaat bersama Jemaat GKI Beringin telah membuka Pos Jemaat yang kedua di wilayah Semarang Barat Daya, tepatnya di Bukit Semarang Baru atau disingkat BSB (Pos Jemaat Pertama di kota Pontianak, tahun 2008 hingga kini).

Pada awalnya rintanganpun menghadang, namun semuanya itu kita lihat sebagai tantangan iman untuk terus maju dengan mengandalkan TUHAN. Saat itu untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah pos jemaat yang baru ini, Majelis Jemaat telah menyewa sebuah RUKO di kompleks perumahan BSB. Persiapan demi persiapanpun sudah dilakukan termasuk perizinan dari para tetangga, lingkungan dan aparat pemerintah yang berkaitan, dan kebaktian perdana segera dapat dimulai. Namun menjelang ibadah pembukaan pos jemaat yang baru ini dimulai, datanglah berita yang menyentak yakni RT setempat tidak mengizinkan ruko tersebut dipakai sebagai tempat ibadah. Padahal izin sudah didapatkan dari RW, Kelurahan dan Muspika setempat. Rupanya, kita terlewatkan untuk meminta perizinan dari beliau, karena kita salah mendapatkan informasi yang mengatakan RT setempat belum terbentuk.  Ancaman akan mendatangkan huru-harapun kita dapatkan. Namun semua itu tidak menyurutkan langkah jemaat GKI Beringin untuk terus melaksanakan ibadah pembukaan Pos Jemaat BSB, sekalipun harus memindahkan ke tempat lain demi menjaga ketenangan, ketentraman dan kerukunan dilingkungan setempat. Untuk itu Majelis Jemaat menerima tawaran dari sebuah keluarga jemaat GKI Beringin yang memang telah lama merindukan rumahnya dapat dijadikan tempat ibadah.

Puji Tuhan, hanya oleh kemurahan Tuhan Yesus saja, ibadah dapat diselenggarakan tepat pada hari Reformasi Gereja yakni Minggu, 31 OKTOBER 2010 hingga hari ini (hampir 4 tahun) di rumah keluarga bapak Arusson Sihite Jl. Merbabu D III/9, Puri Arga Golf, BSB. Ibadah Umum dimulai pk. 07.00 WIB yang dihadiri rata-rata 60 orang. Juga telah dibuka pada jam yang sama ibadah untuk remaja dan anak-anak.

3. Beringin Music Course (BMC)

BMC adalah SEKOLAH MUSIK MELAYANI, dibentuk Majelis Jemaat GKI Beringin dengan tujuan memperlengkapi kemampuan anak dan remaja di bidang musik gereja, dengan harapan ke depan anak-anak dan remaja tersebut akan menjadi pelayan-pelayan musik dalam ibadah di gereja.

Kelas PERDANA yang dibuka adalah kelas musik electone pada hari SABTU, 1 OKTOBER 2011 dengan jumlah murid hanya 6 orang dan guru pelatih sdr. Eko Christianto.

Alat-alat musik yang dipergunakanpun ada 6 buah alat musik electone; semuanya adalah persembahan dari anggota jemaat GKI Beringin yang mengasihi Tuhan. Pelatihan diadakan setiap hari Sabtu siang pk. 13.00. Namun dalam perkembangannya, karena banyak murid-murid yang juga tertarik pada alat musik yang lain, maka pada bulan Januari 2012 telah dibuka kelas musik baru yakni  kelas Keyboard dengan pelatih sdr. Eko Christianto dan kelas Biola dilatih oleh sdr. Krishna Pramudya dengan jumlah murid 12 orang. Karena jumlah murid terus makin bertambah, maka diputuskan membuka beberapa kelas Electone baru pada hari Rabu pk.17.00 dan Kamis pk.18.00; juga hari Sabtu pk.12.00 ; pk.13.00 dan khusus Sabtu pk.17.30 dilatih oleh ibu Memey Rahardjo. Sekarang jumlah murid musik Electone total 45 orang. Pada bulan April 2012, telah dibuka kelas musik Drum dengan pelatih sdr. Marvin Eliezer Budihardjo dan sdr. Kevin Christopher dengan jumlah murid 9 orang. Dan bulan Juni 2012, kembali dibuka kelas musik baru yakni kelas Gitar dengan pelatih Bp. Daniel dan sdr. Rosario Widiananto dengan jumlah murid 10 orang.

Puji Tuhan, oleh karena berkat dan kemurahan Tuhan Yesus saja, maka semuanya dapat berjalan dengan lancar hingga hari ini. Bahkan beberapa murid kelas Electone telah ikut serta dalam pelayanan kebaktian Minggu di GKI Beringin dan juga murid kelas biola dalam ibadah-ibadah khusus seperti Pra-Paskah dan Masa Adven-Natal serta murid kelas drum dalam mengisi acara “drummer boy” pada pembukaan ibadah Agung Natal 2012. Biarlah Tuhan terus mengirimkan anak-anakNya yang rindu dan berbakat untuk melayani musik dalam ibadah di gereja (juga guru/pelatih) sehingga semarak keagunganNya makin di tinggikan.

4. Pembangunan Asrama Putri P.A.K Tanah Putih Semarang

Sejak Mei 2001, GKI Beringin telah mendapatkan hibah sebuah tanah dan bangunan tua sebagai tempat penampungan bagi anak-anak yatim / yatim – piatu yang membutuhkan pengasuhan. Kemudian dalam perjalanannya dirasakan oleh pengurus Yayasan Panti Asuhan Kristen (YPAK) Tanah Putih’ dan Majelis Jemaat GKI Beringin bahwa tempat yang ada sudah tidak memadai dan kurang layak untuk dihuni karena lembab dan pengap.

Disamping itu pengurus Yayasan memandang perlu untuk memisahkan ruang-ruang kamar tidur antara anak-anak laki-laki dengan perempuan sebab mereka makin bertumbuh memasuki masa remaja / masa pubertas. Oleh sebab itulah kemudian diputuskan untuk membangun asrama putri di tempat bekas gedung lama yang dipakai sebagai gudang. Dan pembangunan tersebut dimulai pada tanggal 23 Oktober 2010 dengan didahului kebaktian peletakan batu pertama.

Dana pembangunan seluruhnya didapatkan dari para donatur yang bersimpati dengan pelayanan anak-anak yatim / yatim piatu ini. Sekali lagi, PUJI TUHAN !!! Karena DIAlah yang telah mencurahkan BERKAT-BERKATNYA yang begitu MELIMPAH sehingga pembangunan dapat terselesaikan kurang dari satu tahun. Dan pada tanggal  24 Juli 2011 dilakukan kebaktian pengucapan syukur sekaligus peresmian gedung asrama putri yang baru. “SEGALA PUJI DAN KEMULIAAN HANYA BAGI DIA”.

5. Kerjasama Gki Beringin Semarang Dengan Sebuah Gereja Presbyterian Korea Selatan

Pada bulan Nopember 2009, GKI Beringin telah mendapat kunjungan misionari dari Korea Selatan; sepasang suami istri yakni Pdt. Hyun Jong Jung dan Kiem Jung Hie bersama kedua anak perempuan mereka (sekarang sudah bertambah seorang anak laki-laki yang lahir di Indonesia) dimana mereka sebagai utusan Gereja Jesus Family(gereja Hap-Dong / Presbyterian) di Seoul – Korea Selatan.

Kedatangan mereka ke Indonesia, karena panggilan Tuhan Yesus yang memberikan kerinduan dalam hati mereka untuk hidup dan mati bersama orang-orang Indonesia. Mereka rindu membagikan Injil Kristus dan kasihNya melalui pelayanan kesaksian dan kepedulian kasih. Apa yang menjadi panggilan visi dan misi mereka untuk datang ke Indonesia ini, sama dengan apa yang Jemaat GKI Beringin selama ini gumuli dan kerjakan. Oleh sebab itulah, Jemaat GKI Beringin Semarang menyambut baik apa yang menjadi harapan dan kerinduan mereka untuk melayani di Indonesia, khususnya di kota Semarang ini.

Setelah ± 1 tahun berjemaat di GKI Beringin Semarang, maka Jemaat GKI Beringin telah menjadi Gereja ‘penjamin’ bagi pdt. Hyun Jong Jung dan istri selama mereka berada di Indonesia, untuk membantu pelayanan di kota Semarang, juga di GKI Beringin. Keduanya adalah Sarjana Theologia. Pendidikan (S2 & S3) pdt. Hyun Jong Jung ditempuh di Reformed Theological Seminary, USA.

Proses GKI Beringin menjadi gereja “penjamin”, dimulai dari percakapan dengan BPMS GKI yang diwakili oleh pdt. DR. Robert Setio (Ketum Sinode GKI pada tahun itu) dan perkenalan dengan pdt. Arliyanus Larosa (Sekum Sinode GKI) serta percakapan dengan BPMSW GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah yang diwakili oleh pdt. Mungky Sasmita (Ketum) dan pdt. Litos Pane (Sekum); kemudian dilanjutkan perkenalan dan percakapan dengan BPMSW GKI Sinwil Jateng periode berikutnya yang dihadiri oleh seluruh anggotanya di LPK, jl. Samirono Baru – Jogyakarta a.l : Pdt. Rudianto Djajakartika (Ketum), pdt. Samuel Adi Perdana (Sekum), pdt. Agus Wijaya (Wasekum), pdt. Paulus Lie Cahya Purnama (Ketua Dep.Pembinaan Pejabat Gerejawi), pdt. Wibisono Siswanto ( Ketua Dep.Kespel), pdt. Chiko Kwit Lim (Ketua Dep.Pembangunan Jemaat), pdt. Stephanus Liem, pdt. Rahmat Paska Rajaguguk, pdt. S.P.Waskito Wibowo, dan beberapa penatua sebagai anggota. Juga telah percakapan dengan pdt. Royandi Tanudjaya (Ketum Sinode GKI pada tahun ini).

Puji Tuhan!! Sekalipun pengurusan KITAS (Ketentuan Izin Tinggal Sementara) di Indonesia dengan pihak-pihak yang terkait setiap tahunnya harus diperpanjang (terkesan sulit dan rumit); namun kini telah memasuki tahun ke lima dan jikalau TUHAN berkenan boleh mendapatkan KITAB (Ketentuan Izin Tinggal Tetap) pada tahun berikutnya.

Keberadaan pak Jong (panggilan akrabnya) di kota Semarang ini selain mengajar agama di SMA Krista Mitra untuk kelas bahasa Inggris dan kelas reguler, juga terlibat pembinaan di Gereja Beringin dikelas katekisasi bahasa Inggris dan kelas reguler serta mengajar di kelas Bina Iman Kristen dan memimpin Pemahaman Alkitab bahasa Inggris. Disamping itu, ia juga aktif melayani lembaga-lembaga Kristen lainnya di kota Semarang dan sekitarnya.

Setiap tahun, kita GKI Beringin juga selalu mendapatkan kunjungan dari saudara-saudara (mission team) dari gereja asal pdt.Jong; dengan demikian GKI Beringin Semarang telah menjalin Sister Church dengan Gereja Jesus Family Seoul, Korea Selatan. Puji Tuhan!! Sekalipun Jemaat GKI Beringin saat ini belum mampu mengutus tenaga misionari ‘keluar’ namun kita telah dapat memberikan dukungan bagi misionari yang ke Indonesia.

Demikianlah, sekilas jejak rekam perjalanan Bahtera Jemaat GKI Beringin hingga hari ini.
Bahtera akan terus berlayar mengarungi Samudera dunia yang luas ini dalam pimpinan Sang Nahkoda Kapal yang sejati yakni TUHAN kita YESUS KRISTUS. Untuk itu mari dengan setia kita Jemaat GKI Beringin terus berdoa dan semakin giat berkarya bersama-NYA bagi keselamatan dunia ini. “Tak ada perjalanan yang tanpa pergumulan, namun pula tak ada hari yang tanpa berkatNya, bahkan BERKATNYA SUNGGUH MELIMPAH ATAS KITA senantiasa”.

Akhir kata “SOLIDEO GLORIA”.